4 CARA SUKSES MENITI KARIER BAGI KAUM MILLENNIAL

Tahun 2016 memiliki banyak arti yang pastinya berbeda-beda untuk setiap orang. Tapi jika Anda termasuk dalam generasi millennial, yaitu mereka yang berusia 20-34 tahun atau lahir antara tahun 1980 sampai 2000, tahun 2016 memiliki satu arti yang sama bagi Anda. Tahun ini, Anda resmi menjadi golongan pekerja terbesar di dunia. Ya, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, saat ini gen Y, sebutan lain untuk generasi millennial, mulai menggantikan jumlah populasi gen X, yang lahir antara tahun 1960 sampai sekitar tahun 1980, di tempat kerja.

Perbedaan umur dan generasi, tentu saja membuat pola pikir dan tingkah laku kaum millennial sangat berbeda dengan generasi pendahulu mereka. Bukan sekadar persepsi dan aspirasi karier yang berbeda, hard skill dan soft skill gen Y pun diakui sangat unik dan beragam.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah kecenderungan kaum millennial yang lebih suka mengembangkan usaha sendiri alias berwiraswasta dibandingkan bekerja kantoran. Sebagai generasi yang dibesarkan di era teknologi dan digital yang memudahkan mereka dalam memperoleh segala macam informasi serta sumber daya yang diperlukan, gen Y pun menjadi generasi yang selalu berusaha mencari peluang baru yang dapat membawa mereka secepat mungkin sampai ke goal hidup mereka.

 

Tapi kalau Anda termasuk salah satu golongan millennial yang merasa tidak punya bakat sebagai entrepreneur, tidak perlu khawatir. Ada beberapa tips karier yang cocok untuk Anda, para kaum millennial,yang ingin menaklukkan tangga karier di kantor.

 

Collaborative Knowledge

 

Banyak peneliti menyebut kaum millennial sebagai “Generation Me”. Istilah ini muncul karena gen Y dinilai sebagai generasi yang sangat narsis. Sisi positifnya, hal ini membuat Anda lebih percaya diri, kualitas yang sangat diperlukan dalam pengembangan karier. Tapi sisi buruknya, Anda sering kali merasa bisa melakukan segalanya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Padahal dalam dunia kerja, tidak ada orang yang bisa sukses sendirian. Kemajuan teknologi yang sangat luar biasa mungkin bisa membantu Anda mencari segala sesuatu yang ingin Anda ketahui, tapi pada akhirnya, tidak ada orang yang tahu segalanya.

Bekerjasama dengan orang lain berarti membuka diri untuk mengetahui hal-hal baru, baik pengetahuan maupun pengalaman, yang bisa membantu Anda dalam karier Anda ke depan. Bekerja sama juga berarti menghargai pendapat orang lain dan menerima masukan dari mereka yang lebih berpengalaman. Hal ini dapat Anda lakukan dengan mengikuti kelompok profesi secara online–baik itu melalui Facebook atau LinkedIn–, atau aktif di situs yang memungkinkan pembagian ilmu seperti slideshare. Bagaimanapun juga, banyak kepala selalu lebih baik dibandingkan satu.

 

Komunikasikan Ekspektasi Anda

 

Dalam dunia kerja, Gen Y sering kali dicap sebagai generasi “kutu loncat” yang selalu berganti-ganti profesi dan perusahaan. Bahkan, berdasarkan rata-rata, kaum millennial umumnya hanya memiliki masa kerja dua tahun, sebelum memutuskan untuk pindah ke perusahaan lain. Perilaku ini, meski sering kali dianggap sebagai suatu kelemahan oleh HRD, sebenarnya memiliki beberapa sisi positif. Salah satunya adalah keinginan kaum millennial untuk selalu berkembang dan belajar. Hal inilah yang menyebabkan Gen Y tidak ragu untuk resign jika mereka merasa tidak lagi memperoleh tantangan yang bisa membuat mereka berkembang.

Tentu saja, resign tidak melulu harus menjadi jalan keluar. Sebelum mengambil keputusan untuk kembali menyebar CV, ada baiknya jika Anda mencoba untuk berbicara dulu dengan supervisor Anda. Beri tahu aspirasi dan keinginan Anda sejelas-jelasnya. Misal, Anda bisa meminta mereka memercayakan Anda sebagai project leader dalam proyek yang kira-kira menarik bagi Anda. Mutasi juga bisa jadi salah satu cara bagi Anda untuk terus berkembang dan belajar. Siapa tahu, inisiatif seperti ini justru akan menambah nilai plus Anda di mata sang bos.

 

Manfaatkan Media Sosial
 

Bukan rahasia lagi kalau kaum millennial terkenal dengan kemampuan teknologi dan akses digital mereka yang luar biasa. Tapi pastikan untuk meninggalkan dulu semua media sosial dan gadget Anda saat Anda berada di jam kantor. Tidak ada perusahaan yang senang melihat karyawan yang mereka bayar menghabiskan waktu perusahaan dengan browsing hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan atau meng-update status tanpa henti di jejaring sosial.

Sebaliknya, manfaatkan kemampuan bidang teknologi dan digital untuk mengembangkan karier Anda. Bukan berarti Anda tidak boleh browsing di kantor, tapi pastikan Anda browsing untuk mencari ide yang dapat mengembangkan proyek yang sedang Anda kerjakan. Manfaatkan media sosial untuk memperluas network atau mengetahui tren terbaru yang kira-kira bisa dijadikan ide sebuah produk baru. Pastikan teknologi justru membantu Anda untuk menjadi karyawan kritis yang mampu memecahkan masalah secara efektif dan efisien.

Juga gunakan aplikasi yang dapat membantu Anda untuk dapat bekerja secara efisien. Beberapa aplikasi yang dapat Anda coba adalah:

  • Trello. Merupakan tool kolaboratif yang menyusun proyek-proyek Anda dalam satu dashboard. Secara sekilas aplikasi ini akan memberitahu Anda apa yang sedang dalam tahap pengerjaan, siapa mengerjakan apa, dan tahap pengerjaan suatu tugas atau proyek. Sangat direkomendasikan bagi Anda yang tengah mengerjakan beberapa proyek dalam waktu bersamaan.
  • Wunderlist. Aplikasi berisi daftar-daftar (to-do-list sampai daftar belanjaan) yang membantu pekerjaan ini akan sangat membantu Anda dalam mengatur jadwal kerja yang efisien. Wunderlist disertai dengan pengingat dan deadline untuk setiap tugas, memastikan Anda tidak melewati satu tugas pun.
  • Evernotes. Aplikasi ini dirancang untuk membantu Anda dalam mengatur catatan, foto, file suara, dokumen, berkas, dan lain-lain. Evernote akan menyelaraskan semua berkas di dalam gadget Anda dan memudahkan Anda untuk mencari file yang diperlukan.

 

Jangan Lupakan Kehidupan Sosial Anda

 

Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, generasi millennial dikenal sebagai generasi yang pertama kali menggaung-gaungkan pentingnya work life balance. Meski ambisius dan selalu ingin jadi yang terbaik, gen Y juga tidak pernah menganggap remeh pentingnya kehidupan sosial di luar pekerjaan. Untungnya, menurut Margaret Heffernan yang banyak menulis tentang bisnis dan karier, ini adalah hal yang sangat positif. Menurutnya, memaksakan diri untuk terus berpikir sama seperti memaksa mesin bekerja tanpa henti. Pada satu titik, mesin itu akan meledak atau hancur kepanasan. Selain itu, keadaan overload juga akan mengurangi kemampuan Anda untuk mengeluarkan ide-ide baru. So, it’s ok to take a break. Really.

 

Sumber : Astralife.co.id